Pernikahan

Tingkah Unik Tamu di Resepsi Kahiyang-Bobby

Tamu undangan naik becak menuju gedung pernikahan Kahiyang Ayu (Foto: Tribunnews/Wahid Nurdin)

Pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya warga sekitar Solo, banyak juga warga dari luar Solo yang antusias menonton langsung. Termasuk yang sedang hamil sekalipun. Pasangan Emil-Arumi Dardak yang pertama memberikan “kado” ke mempelai.

Laporan Fahmi Samastuti – Novita DARI Solo (JPNN)

Pertanyaan demi pertanyaan bernada khawatir itu mengalir ke Indria Maharani dari mana-mana. Dari mertua di rumah. Juga dari petugas di stasiun kereta api.

Intinya sama, di usia kandungannya yang sudah delapan bulan, tidakkah terlalu birisiko bepergian dari Malang ke Solo.

“Usaha keras pokoknya (agar bisa sampai ke sini, Red),” katanya kepada Jawa Pos di Solo kemarin (8/11) sembari didampingi sang suami, Aji.

Pernikahan Kahiyang Ayu, putri Presiden Joko Widodo (Jokowi), dengan Bobby Nasution di Solo kemarin memang kental dengan nuansa pesta rakyat.

Menarik antusiasme tak hanya warga kota di Jawa Tengah itu. Tapi, juga “turis” dari berbagai kota lain di tanah air.

Triya Juliatin, misalnya, rela jauh-jauh datang dari Brebes di pesisir utara Jawa Tengah bersama sang suami, Hanung Sasongko.

Padahal, seperti halnya Indria, Triya tengah berbadan dua. Usia kandungannya lima bulan.

“Ngidam nonton saya, ndak salaman ndak apa-apa. Yang penting lihat langsung, nggak di TV,” ucapnya.

Kalau Triya begitu ingin melihat langsung kedua mempelai dan kemeriahan prosesi pernikahan, motivasi Indria ke Solo justru untuk melihat langsung Jan Ethes Srinarendra, cucu Jokowi.

Bagi dia, buah hati Gibran Rakabuming dan Selvi Ananda itu demikian menggemaskan.

“Pengin lihat Jan Ethes (cucu pertama Jokowi, Red). Habis lucu banget pas di vlog-nya Jokowi,” imbuhnya.

Tamu yang lebih jauh lagi adalah Opa Musa. Pria 79 tahun asal Manokwari, Papua, itu sudah dua hari menginap di Solo.

“Saya ingin bertemu Bapak dan bersalaman. Saya cinta karena Bapak datang ke Manokwari, ke Papua, yang sering orang lupa. Bapak kata mau bangun Indonesia dari daerah pinggir,” ucapnya dengan suara bergetar.

Opa Musa adalah satu di antara ratusan relawan Projo alias Pro Jokowi, salah satu elemen pendukung Jokowi pada Pemilihan Presiden 2014.

Usia dan latar belakang mereka beragam. Semua ditampung di Asrama Haji Donohudan, Solo.

“Ini bentuk hormat sama Presiden yang mbahu reksa. Mugi-mugi pinaringan lancar (semoga diberi kelancaran, Red),” ucap Mursiwi, perempuan 70 tahun yang datang sendirian dari Jogjakarta.

Meriahnya pernikahan tersebut juga dirasakan penjaja makanan dan pemilik usaha kuliner di sekitar kawasan Graha Saba Buana, tempat resepsi.

Banyak warung yang dijujuk para sukarelawan yang datang mulai pagi.

Salah satunya warung milik Setiasih. “Gorengan tadi jam 10 mpun telas. Ini tinggal minuman sama nasi,” ucap Asih.

Pedagang minuman juga mulai memasuki Jalan Letjen Soeprapto, tempat geduang resepsi berada, saat siang.

Iwan Wahyudi, salah seorang penjaja, misalnya, mengaku berhasil menjual 50 botol air mineral tanggung.

Padahal, dia menaikkan harga minumannya hingga Rp 500-Rp 1.000 per kemasan.

“Jam 10 tadi berangkat, tapi sembunyi-sembunyi di belakang. Belum jam 12 sudah habis.”

“Pesta ini sederhana, tapi di satu sisi juga ‘mewah’. Dalam artian, manfaatnya bisa dirasakan semua masyarakat,” ungkap Zumi Zola, gubernur Jambi.

Dia menjelaskan, dekorasi panggungnya bersahaja untuk ukuran pernikahan anak orang nomor satu Indonesia. Pelaminan dihiasi buah, sayur, serta bunga.

Dia juga memuji Jokowi yang melibatkan para tukang becak, pedagang pasar, serta PKL dalam perhelatan akbar itu.

“Pernikahan ini tidak cuma membahagiakan buat keluarga, tapi juga buat masyarakat,” lanjut Zumi.

Kesederhanaan itu juga dibangun lewat suasana pernikahan yang hangat, terlepas dari prosesi ijab dan panggih yang sakral.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebutkan, banyaknya tamu undangan dengan beragam agama, suku, hingga latar belakang politik tidak membuat suasana lantas kaku.

“Tadi saja istri Bupati Purbalingga sempat berhenti minta selfie.

Jadinya, ya ketinggalan. Suaminya sudah jalan, istrinya masih foto,” ucapnya.

Mayoritas sajian untuk para tamu pun menu yang diakrabi masyarakat luas, terutama warga Jawa Tengah.

Selama resepsi yang dilaksanakan dalam empat sesi, tersedia, antara lain, sup timlo, sate kere, cabuk rambak, dan kambing guling.

Sementara itu, untuk minumannya, ada aneka wedang serta jus buah. Gibran juga membuka gubuk makanan khusus Markobar, usaha martabak kekinian yang dirintisnya.

Salah satu awak media sempat “mencicipi” martabak telur setelah mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan penganan yang dibawanya setelah menghadiri resepsi.

Untuk suvenir, ada dua jenis. Tamu VVIP dan VIP mendapat grafir kaca yang dibungkus kotak warna emas. Sedangkan undangan umum mendapatkan tas kosmetik beragam warna.

Apa isinya? Atas permintaan para wartawan, Arumi Dardak, istri Bupati Trenggalek Emil Dardak, pun membuka suvenirnya. Isinya sebuah tas cantik warna pink terbungkus rapi.

“Wah, warnanya pink. Kebetulan cocok sama saya. Desainnya bagus,” ujar Arumi.

Ketua MPR Zulkifli Hasan bersama istri juga membawa pulang suvenir berupa kerajinan tangan grafir kaca.

“Bagus suvenirnya. Ini dapat menggeliatkan potensi usaha mikro, kecil, menengah (UMKM),” kata Zulkifli.

Tuan rumah juga melarang semua tamu memberikan kado kepada mempelai. Namun, Emil dan Arumi tamu pertama yang “ngeyel”.

Tas suvenir (kiri), kain pembungkus tas (kanan). (Foto: Tribunstyle.com/Sinta Manila)

Hanya, bukan barang yang dihadiahkan kepada Kahiyang dan Bobby. Melainkan lagu Cinta yang dulu dipopulerkan almarhum Chrisye.

Itu bermula ketika band penghibur resepsi menawari tamu undangan untuk menyanyikan sebuah lagi.

Tanpa ragu-ragu, Emil didampingi Arumi menjawab tantangan tersebut. Suara emas keduanya pun menambah semarak hajatan akbar tersebut.

[mashshare]